Friday, June 27, 2008

my thank u's

thank u faizah amir for the lovely cake and card.

thank u H.O. for the sms, poem and entry.

thank u pai for lunch (ke nak tuntut bayaran nih??).

thank u nibah, chiq, kakyung, mak and ayah for remembering.

thank u asma' and sibah for the bag and baju.

thank u to all those who smsed and wished; sibah, syahadah, uswah, asma', farhanin, farhanah, nik aishah, kak ngah, fadhilah etc

thank u to MO&O&AWB for the e-card and card by snail mail which i have yet to see.

Friday, June 20, 2008

another day

my lovely family

lots of things happen everyday. if i don't make an effort to reflect on them, it will pass just like that and i may not learn anything from it.

reflection is a conscious effort.

most of the time, that is exactly what happens. the day passes just like that.

Aku Mencintaimu dan Mendukungmu

this article was posted in one of the emails i subscribe to. i think its a nice read for all my newly-wed friends and their spouses.


Oleh: Dra. Anis Byarwati, MSi. (dakwatuna.com)

- Ekspresi cinta bisa bermacam-macam. Bagaimana dengan ekspresi cinta pasangan aktifis dakwah? Menjadi aktifis, saya rasa tidak berarti kehilangan ekspresi dalam mencintai pasangan. Bahkan menurut saya, ekspresi cinta pasangan aktifis dakwah itu unik, karena juga harus punya pengaruh positif untuk dakwah. Lho, kok bisa begitu? Apa hubungannya ekspresi kita dalam mencintai pasangan dengan dakwah?

Berbicara soal cinta mencintai, saya terkesan dengan filosofi cinta yang dimiliki ibu saya. Filosofi beliau ini saya 'tangkap' secara tak sengaja ketika beliau sedang 'menceramahi' adik bungsu saya yang laki-laki yang sedang kasmaran. Cerita sedikit, begini kira-kira sebagian kecil isi ceramah ibu saya… "Kalau kamu mencintai seseorang malah membuat kamu jadi malas belajar, malas kuliah, malas ngapa-ngapain, membuat kamu malah jadi mundur kebelakang, itu cinta yang nggak benar …dst".

Jadi begitu rupanya. Saya mencoba merenungi kata-kata itu lebih dalam. Saya merasakan ada kebenaran dari 'ceramah' ibu saya itu. Mencintai seseorang tidak boleh membuat kita menjadi mundur ke belakang. Sebaliknya, mencintai seseorang harus membuat kita lebih produktif, lebih berenergi, lebih punya vitalitas. Singkatnya, mencintai seseorang harus membuat kita menjadi lebih baik dari sebelumnya!

Lalu secara reflek saya mengaitkan itu dengan kehidupan cinta antara pasangan aktifis dakwah. Antara Ummahat al-Mukminin dengan Rasul Yang Mulia, antara para shahabiyat dengan suami mereka. Lihatlah ekspresi cinta Fathimah putri Rasulullah terhadap Ali bin Abi Thalib, Asma' binti Abi Bakar terhadap Zubair bin Awwam, Ummu Sulaim terhadap Abu Thalhah, juga ekspresi cinta Khansa', Nusaibah, dan para aktifis dakwah zaman ini. Mencintai suami tidak membuat mereka menjadi lemah atau mundur ke belakang. Mencintai suami juga tidak membuat mereka menjadi tak berdaya atau tak mandiri. Justru yang kita saksikan dalam sejarah, mencintai membuat mereka menjadi semakin kokoh, lebih produktif dan kontributif dalam beramal, lebih matang dan bijaksana dalam berperilaku. Dengan kata lain, mereka menjadi semakin 'berkembang' dan 'bersinar' setelah menikah!

Betapa indahnya jika ekspresi cinta kita kepada suami membawa dampak seperti itu! Betapa indahnya jika ekspresi kita dalam mencintai suami memberi pengaruh posititif pada kehidupan kita, baik sebagai pribadi maupun sebagai aktifis dakwah.

Menurut saya, mencintai suami tidak berarti 'kehilangan' diri kita sendiri. Tidak juga berarti kehilangan privacy, tidak membuat kita merasa 'terhambat', 'terbelenggu', atau 'tak berdaya'. Kita bisa mencintai suami kita sambil tetap memiliki kepribadian kita sendiri, tetap memiliki privacy. Tentu saja semuanya dalam batas tertentu dan tetap berada dalam koridor yang sesuai dengan syari'at Allah.

Bahkan yang lebih dahsyat adalah, jika cinta kita kepada suami memiliki 'kekuatan' yang menggerakkan dan memotivasi. Lalu cinta itu mampu membuat kita 'berkembang', menjadikan kita semakin energik, produktif dan kontributif! Dengan begitu, pernikahan membawa keberkahan tersendiri bagi dakwah. Karena, dakwah mendapatkan 'kekuatan dan darah baru' dari pernikahan para aktifisnya.

Apakah hal itu terlalu idealis? Karena kenyataan kadang berkata sebaliknya. Berapa banyak perempuan kita yang setelah menikah merasa dirinya tidak berkembang? Atau merasa hilang potensinya? Saya tidak ingin mengatakan kondisi 'tenggelamnya' perempuan setelah menikah sebagai sebuah fenomena, meski kondisi seperti ini sering saya jumpai di Jakarta dan juga ketika saya berkunjung ke daerah-daerah.

Saya tak ingin membahas kenapa itu terjadi, apalagi mencari 'kambing hitam' segala. Tetapi kita patut merenungkan kata-kata Imam Syahid Hassan Al-Banna ketika berbicara tentang pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Saya kutipkan kata-kata beliau ini yang terdapat dalam buku Hadits Tsulasa, halaman 629… "Kehidupan rumah tangga adalah 'hayatul amal'. Ia diwarnai oleh beban-beban dan kewajiban. Landasan kehidupan rumah tangga bukan semata kesenangan dan romantika, melainkan tolong- menolong dalam memikul beban kehidupan dan beban dakwah…"

Rumah tangga merupakan lahan amal. Rumah tangga juga menjadi markaz dakwah. Perjalanan kehidupan rumah tangga para aktifis dakwah bukan hanya dipenuhi romantika semata, tetapi juga diwarnai oleh dinamika semangat beribadah, beramal dan berdakwah. Sebuah perjalanan rumah tangga yang bernuansa ta'awun dalam memikul beban hidup dan beban dakwah. Subhanallah!

Saya memberikan apresiasi kepada para perempuan yang setelah menikah justru semakin 'bersinar', kokoh, matang, bijaksana, energik, produktif dan kontributif dalam beramal, sambil menjaga keseimbangan dalam menunaikan tugas sebagai istri dan ibu. Saya percaya, untuk bisa mendapatkan semua kondisi itu ada proses panjang, kerja keras dan pengorbanan yang tidak kecil. Barakallahu fiiki.

Lalu untuk perempuan yang masih merasa 'terhambat, terbelenggu dan tidak berkembang' setelah menikah, saya ingin memberi apresiasi secara khusus. Berusahalah untuk menghilangkan perasaan terhambat, terbelenggu atau tidak berkembang itu. Ya, sebab membiarkan perasaan-perasaan semacam itu menguasai diri kita, sama saja dengan 'menggali kuburan sendiri'. Bukankah lebih baik jika kita tetap berpikir jernih dan positif? Lalu mencari bentuk kontribusi yang paling memungkinkan yang bisa kita berikan untuk dakwah. Bisakah kita tetap berhusnuzhon, selama kita ikhlas menjalani hidup kita, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal kita? Bisakah kita tetap yakin, bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh gelar, jabatan, posisi, kedudukan, ketokohan dan kondisi fisik lainnya?!

"Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling bertakwa diantara kamu" (QS al-Hujurat:13).

Jadi, tetaplah tegar dan sedapat mungkin beramal sesuai kemampuan dan kesanggupan, karena kita tidak dituntut untuk beramal diluar kemampuan dan kesanggupan kita. Barakallahu fiiki!

Tuesday, June 17, 2008

Dermographism


(gambar ini adalah hiasan semata2)

Dermographism means skin that you can write on.

This skin condition is characterized by the appearance of raised patches of skin or welts. What makes this condition unusual in appearance is that the welts are in the pattern of the force applied to the skin.

For example, if a blunt object is used to write or draw something on the skin simply by the use of pressure, the writing will appear on the surface of the skin as raised letters. If the skin is lightly scratched, the raised areas will be in the pattern of the scratching. Accompanying the raised skin areas is very itchy skin prior to the welts, while the welts are forming, and while the hives or welts are present.

Other dermatographism symptoms are skin redness and possibly the appearance of small red bumps. Often the individual with dermographism gets up in the morning with red marks all over the face and other body parts. Also, drying off with a towel after bathing can lead to read marks on the skin, especially in the facial area.

A constant characteristic of this skin condition is that one minute the individual may be perfectly fine and the next the skin becomes itchy. This causes the individual to scratch (sometimes without noticing that he/she is doing it) and this results in the other dermatographism symptoms appearing. The welts usually develop within five minutes of the stroking of the skin surface. The dermatographism symptoms persist for 15 to 30 minutes and sometimes a bit longer and then subside. Many such episodes may occur in one day and rarely does the individual go a full day without at least one out-break of symptoms.

Not a lot of pressure is required to trigger the dermatographism symptoms. Sometimes, simply rubbing the face lightly with a finger will cause the flare-up of a red itchy raised patch of skin. This is very noticeable and can cause embarrassment and stress for the affected individual. Greater amounts of applied pressure to the skin will produce more dramatic dermatographism symptoms.

Objects that create friction on the skin such as tight fitting clothing, wristwatches, belts, and even eye glasses where they contact the skin, can all trigger the dermatographism symptoms.

In 25-50% of people, firm stroking does produce more than the normal amount of skin redness. However, welts are not present and neither is excessive itching. Approximately, 2-5% of individuals will experience the full dermatographism symptoms.

All body surfaces can be affected by this skin condition. The most common body areas to be affected are the trunk of the body (back, chest, abdomen), buttocks, and face. Arms and legs may also be involved, but the scalp and genitalia areas less frequently.

Dermographism symptoms can appear at any age, but is more common in young adults. Individuals in their 20s or 30s are most often affected.


p.s.. i dont have dermographism. i just know someone who does :)

Sunday, June 15, 2008

more weddings

although i'm already a week into my first posting, i still have not gotten into the study mode yet unlike my friends. i don't know why i was feeling rather numb. since i had already planned a trip to kl to meet up with my family and go back to jb together, i might as well go thru with it.

so, i went to kl with kak zai (a houseman at PPUM) and her sister azwa (who is my age and has a lucrative job with petronas at KLCC... wow). we started our journey around maghrib time and had to be very speedy so that i could catch the last komuter to shah alam. alhmadulillah i made it and mak and ayah and kakyung and nibah were waiting for me already.

the next day, after breakfast at a nearby restaurant suggested by kakyung, we went to kak fatimah and amin's wedding in dewan banquet UPM very early because we had to rush for my friend aishah mohd nor's walimah in jb. both were family friends and we just had to attend both weddings.

alhamdulillah by 4pm we arrived in jb. there were'nt many people by then but, i got to chat with aishah and husband without feeling guilty of distracting them from the walimah.

semoga Allah memberkati pasangan2 pengantin baru dan mengumpulkan mereka dalam keberkatan-Nya

ok, i'm off to kuantan in an hour's time.


aishah and adha

with my former roommate in matrix pj, masyitah aminah (best student law tu...)

the very sweet and kind kak zai

we didnt stay to see the pengantins in UPM (kak fatimah and amin) but the floral arrangements were nice :)

Sunday, June 08, 2008

finally a final year

wow, i'm a final year med student. can't believe it meself. my first posting is internal medicine. after 8 weeks of minimal activity, one whole day of standing at the hospital has my feet extremely sore. bile duduk, terase sakit kaki yg amatnye.

i have so much to do and learn in so little time, jadi malas nak buat ape2.

tadi my left deltoid muscle hampir2 lebam sebab Dr Yusof Rathor asyek pukul je sebab i couldnt answer his questions. malu je kat elective stduents from oman yg join our teaching. kene study sungguh2 and practise more.

last weekend, 2 of my high school classmates got married so i went to their wedding. jumpe ramai orang yang same je kat both weddings. a week before that was ummu's wedding. this weekend is aishah mohd nor's walimah.

it's a year of weddings for my batch.

me?

i wanna finish studying first.


this book is a must read for couples getting married and those who are already married. it contains stories of raising children and also observations in life which we can relate much with. i found it very enlightening.


nadirah and her norwan


from left: attiyyah, me, farhanin, and ruqayyah
(tak perasan pun kitorang ikut ketinggian, hehe)


kak farhana and haziq


kak maryam khalid and her daughter are apparently living in kuantan. what a small world.